Mau Coba Menyantap Kapal Selam?
Mau Coba Menyantap Kapal Selam? diambil dari Kompas.comMinggu, 16 Maret 2008 | 04:36 WIB
Masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, punya tebak-tebakan lama. Orang mana yang paling kuat? Jawabnya, wong (orang) Palembang. Kenapa? Karena orang-orang di sana gemar menyantap ”kapal selam”.
Kapal selam yang dimaksud adalah pempek kapal selam. Jenis pempek palembang sebesar kepalan tangan orang dewasa yang berisi telur bebek itu memang bentuknya mirip kapal selam. Saat disajikan, makanan itu pun selalu terendam kuah, mirip kapal yang nyebur dalam air.
Kelakar tersebut cukup menggambarkan betapa masyarakat di Pelembang lekat dengan pempek, yang kehadirannya hampir disejajarkan dengan makanan pokok. Pempek palembang bisa disantap untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Jangan heran, jika pagi-pagi ada orang yang mengunyah pempek palembang sambil menyeruput cuko—kuah berwarna coklat kehitaman yang rasanya pedas-manis-asam—tanpa khawatir sakit perut.
Pempek palembang dibuat dari terigu yang dicampur ikan belida, ikan gabus, atau tenggiri yang dimasak, lantas digoreng. Selain kapal selam, ada banyak jenis lain. Pempek palembang yang bulat kecil disebut adaan, sedangkan yang lonjong dinamakan lenjer. Ada lagi pempek tahu, kulit, keriting, sate, dan pempek lenggang.
Makanan ini mudah diperoleh karena banyak dijajakan, mulai dari toko mentereng di tengah kota, warung kecil pinggiran sungai, di atas perahu, atau ditenteng pedagang sambil berjalan kaki menyusuri kampung. Begitulah, pempek jadi salah satu ikon penting masyarakat budaya sungai di Palembang.
”Tradisi pempek palembang dipengaruhi kebiasaan membuat bakso masyarakat China. Diperkirakan, budaya itu tumbuh bersamaan dengan kedatangan besar-besaran masyarakat China ke Palembang pasca-Kerajaan Sriwijaya, yaitu sekitar abad ke-14 Masehi. Nama pempek sendiri mulai dikenal 1920-an,” kata Yudhy Syarofi, pengamat budaya di Palembang.
Selain pempek, masyarakat Palembang juga dikenal mahir membuat bermacam makanan berbahan tepung terigu campur ikan. Jika bahan ini direbus dan disantap dengan kuah sop, jadilah tekwan. Jika digoreng dengan isi tahu, dinamakan model. Tepung beras yang diolah mirip lontong disebut burgo. Bahan ini juga bisa dibuat jadi celimpungan, lakso, atau ragit.
Banyaknya ikan yang hidup di Sungai Musi memberi inspirasi masyarakat untuk menciptakan lauk-pauk berbahan ikan. Ikan patin, belida, dan ikan gabus biasanya dipindang, yaitu dimasak dalam kuah yang terasa manis-kecut-pedas. Kadang, ikan patin dan belida dibrengkes atau dipepes. Pepes yang dicampuri durian disebut tempoyak, rasanya manis-gurih.
Bagi masyarakat lokal, berbagai jenis makanan itu sudah jadi santapan sehari-hari. Bagi orang luar daerah atau mancanegara, mungkin saja tradisi itu memberikan kesan unik sehingga merangsang mereka untuk mencicipinya. Jika potensi ini dikemas menjadi paket-paket yang bagus, tentu bakal menjanjikan wisata kuliner yang menarik.
Hannya saja, Visit Musi 2008 masih belum berhasil mengemas tradisi kuliner itu dalam paket-paket yang memikat, apalagi menyentuh pedagang pempek palembang di kampung-kampung. Banyak pedagang berharap program dengan promosi gegap gempita itu dibarengi kebijakan yang membumi dan turut mendorong roda ekonomi masyarakat bawah.
”Sebaiknya pemerintah melibatkan semua pedagang pempek, termasuk yang kecil-kecil, untuk program wisata kuliner yang murah, nyaman, dan mudah dijangkau wisatawan. Siapa tahu, langkah itu bisa menggairahkan bisnis pempek yang sekarang terbebani biaya produksi akibat harga bahan baku yang semakin tinggi,” kata Mang Din, warga Kelurahan 1 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, yang menekuni usaha pempek palembang sejak tahun 1982. (iam/oni/wad/boy)







